Contoh chatsex lesbi

posted by | Leave a comment

Foto dari Instagram/awkarin Menurut hemat saya, berkaca dari segala percakapan dan opini yang ramai berseliweran di dunia maya, sudah seharusnya kita berterima kasih pada Awkarin, alias Karin Novilda, seorang remaja perempuan 18 tahun yang menjadi selebgram, , dan salah satu dari sederet #Relationship Goals remaja masa kini.Bukan, bukan karena Awkarin sendiri secara personal telah memberikan hadiah buat kita, para penonton dan komentatornya di dunia maya (seperti anggota band yang melempar kaos bau keringat dari atas panggung lalu semua orang berteriak, ", semangat masa muda kita kembali lagi.Pemilihan presiden yang lalu, ada, lho, yang bersemangat membahas capres anu pakai tangan sebelah mana untuk beraktivitas. Bahwa kita ternyata masyarakat yang berstandar ganda – kalau bukan hipokrit Seorang teman di Twitter, 32 tahun, perempuan, sudah berkeluarga, mengomentari fenomena tulisan-tulisan yang membedah kelakuan Awkarin dengan, “Kayak pacaran pada zamannya cuma pegangan tangan doang. ” Waktu kita remaja, gaya pacaran seperti Awkarin sebetulnya sudah bisa ditemukan. Hanya, karena belum ada media sosial, hal-hal seperti itu tidak terlalu tampak oleh kita, sekaligus tidak terlalu mudah untuk dikomentari. Mulai dari publik, pasti langsung banyak sapaan bergairah muncul di layar komputermu. Waktu sebelum saya, zaman belum ada internet, mungkin medianya stensilan atau karya-karya Enny Arrow . Saya baru saja memberikan materi edukasi seksual pada anak-anak SMP kelas 7-8 yang sedang Pramuka, dan bahkan lagu-lagu yang mereka nyanyikan untuk sesi rekreasi ada yang bernuansa seksual!Lalu, biasanya penampilan religius selalu dianggap naik tingkat ke segalanya yang baik dan karena itu tak berpenampilan religius berarti lebih tak baik – yang tak mengenakan atribut religius dirisak secara halus, sementara Ratu Atut dan Jonru tetap eksis. Siapa, sih, yang masih demen baca sebelum komentar atau berpikir sebelum berbuat di Indonesia ini? Tapi sedikit sekali yang peduli bahwa pernikahan anak masih dilindungi hukum di negara ini. : D” Seorang teman saya yang lain, sekitar 3 tahun lebih muda dari yang pertama, bahkan berkomentar begini, “Padahal, saya SD tahun 1998, temen saya udah kayak Karin itu. Saya belum pernah jadi orangtua, tapi saya sudah pernah jadi remaja. Apakah bedanya remaja sekarang (baca: generasi Awkarin) dan remaja dulu (baca: kita) soal itu? Sesungguhnya justru karena dorongan alamiah remaja inilah, sangat penting untuk memberikan edukasi seksual yang komprehensif, benar, dan terbuka pada mereka.Tapi menganggap bahwa hanya laki-laki yang bisa jadi presiden di negara ini, itu seksis (mau bilang patriarkis tapi nanti dimarahi, kok apa-apa salah patriarki? Saya sering menemukan orang-orang, biasanya perempuan, yang , katanya. ” Sekali lagi, mereka bahkan kenal pada siapa pun itu yang punya akun Instagram. Tubuh perempuan, terutama perempuan Indonesia yang berakhlak beragama, pokoknya harus ditutupi soalnya vulgar dan membawa laknat. Padahal, kata salah seorang menteri di Malaysia saat dimintai pendapat soal pencekalan konser Selena Gomez di negara itu gara-gara sang penyanyi dianggap terlalu seksi, “Keseksian itu ciptaan Tuhan dan sifatnya subyektif.” Nah lo! Bahwa kita ternyata masyarakat yang cepat lupa – boro-boro mau memahami Kalau Anda masih bisa mengingat-ingat, ke masa remaja, saya cukup yakin Anda setuju pada satu hal: jadi remaja itu susah.Coba kalau yang melakukan hal yang sama – mengekspresikan (atau “memamerkan”, menurut istilah kekinian beberapa kalangan) tubuh – adalah makhluk seperti Awkarin atau Mulan Jameela, orang-orang yang sama itu bisa jadi dalam hati menyumpahi, “Apaan, sih, ini, perempuan pamer-pamer keseksian begini maksudnya apa? Keinginan untuk diterima oleh teman-teman sebaya adalah kehausan yang mahadahsyat.Tapi karena ternyata kehadiran dan eksistensi Awkarin dalam jagat dunia maya tak berbatas ini telah memberi banyak pelajaran kepada kita yang lebih dewasa darinya.

Intinya, alih-alih mengajarkan respek pada setiap orang dan dan pilihan-pilihan yang mereka ambil atas tubuh atau hidup mereka, ada banyak; bahkan bisa oleh kaum perempuan kepada sesama perempuan.Atau, ketika melihat berita pemerkosaan yang mendeskripsikan pakaian si korban, kita berpikir, 'Wah, pantas saja diperkosa, jalan sendirian pakai pakaian begitu'.Dengan adanya media sosial seperti Instagram, media yang dipilih Awkarin untuk berekspresi, 2.Kalau baca artikel-artikel yang “kontroversial” di dunia maya, di bawahnya ada saja deretan komentar yang marah-marah tapi puluhan kali.) Orang heboh mengurusi para pemilik media sosial yang memasang foto seksi di akun masing-masing – akun masing-masing, lho, bukan akun prostitusi terselubung. Zaman saya remaja, belum ada Twitter, Instagram, apalagi Nyatanya, kurikulum pendidikan kita masih nol besar soal itu. Tidak ada ajaran agar menghargai dan menghormati kepemilikan tubuh.Materi pendidikan reproduksi hanya berkisar pada anatomi alat reproduksi yang rumit serta gambar-gambar mengerikan penyakit kelamin. Tidak ada pemahaman tentang seks yang aman dan kontrasepsi – sosialisasi kondom malah dituduh menebar maksiat.

Leave a Reply

teenage love and rebound dating